Mesin Pencari (masukkan kata kunci)

Tampilkan postingan dengan label ADIWIYATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ADIWIYATA. Tampilkan semua postingan

17 Desember, 2013

LOMBA FASHION DARI BAHAN BEKAS

Setelah satu minggu penuh dipenatkan dengan Ulangan Akhir Semester (UAS), untuk mengisi waktu menjelang liburan semester 1, siswa-siswa SMPN 2 Trenggalek mengadakan berbagai kegiatan, diantaranya adalah Lomba Fashion, Karaoke dan Jalan Santai. Untuk lomba fashion telah dilaksanakan hari Selasa, 17 Desember kemarin, dan Lomba karaoke rencananya dilaksanakan 2 hari yakni Rabu dan Kamis, mengingat jumlah pesertanya sangat banyak, sedangkan Jalan Santai dilaksanakan besok Jum'at, 20 Desember 2013.
Persiapan pelaksanaan lomba fashion sendiri telah diawali kurang lebih 2 bulan sebelumnya dengan pembuatan busana yang terbuat dari bahan bekas yang merupakan bagian dari realisasi 3R (Reuse, Reduse dan Recycle) dalam pengelolaan sampah. Hal ini juga sebagai tugas kelompok dari mapel Seni Budaya yang dibimbing oleh Bp. Hari Pramono, S.Sn. dan Ibu Tutik Hartiningsih, S.Pd.
Kegiatan lomba fashion yang diikuti oleh 24 peserta dari kelas 7 sampai kelas 9 ini berlangsung sangat sukses, meriah dan penuh antusias baik peserta maupun siswa-siswi lainnya. Berbagai kreasi baik corak, bahan dan desain busana dengan harmonisasi warna yang terpadu dengan apik ditampilkan dalam acara ini oleh para peraga dengan gaya yang lenggak-lenggok bag peragawati profesional, he..he..he. Dengan diiringi musik yang hingar-bingar dan tepuk tangan meriah untuk memberi semangat para penampil dan sesekali waktu dengan olok-olok lucu "clebang-clebung" dari penonton membuat senyum dan tawa bapak ibu guru ndak bisa ditahan.  Dengan bermodalkan HP, fotografer amatir dadakan juga bermunculan untuk mengabadikan moment penting ini. Maklumlah selama ini anak-anak dilarang membawa HP ke sekolah.
Pada akhirnya dengan kegiatan semacam ini menunjukkan keberhasilan pengembangan bakat, minat dan kreatifitas peserta didik SMPN 2 Trenggalek, yang sekaligus juga merupakan bagian dari pengembangan program Sekolah Adiwiyata yang tahun ini Alhamdulillah telah berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional. Selamat untuk semua warga SMPN 2 Trenggalek, khususnya siswa-siswi yang selama ini telah banyak mendukung dan berpartisipasi aktif untuk mewujudkan cita-cita kita bersama.  Maju terus SMPN 2!!

Adapun hasil kejuaraan dari lomba fashion, seperti tertera berikut ini:
No
Ket. Juara
Jumlah Nilai
No. Penampilan
Nama Peserta
Kelas
1
Juara 1
970
18
NITA SETIANI
8B
2
Juara 2
963
17
AYU NUR HAEVEN
9D
3
Juara 3
948
22
DESI AULIA KHOIRUL U
8D
4
Harapan 1
942
4
LINDA LAILATUL NUR H
9C
5
Harapan 2
939
8
AYU MEI CH
9A
6
Harapan 3
936
20
MASROKATIN
8F
7
Harapan 4
934
9
NANDA SAFITRI
9E

Selamat kepada siswa yang telah meraih juara, tetap semangat bagi yang belum berhasil.
https://picasaweb.google.com/smp2trenggalek/FashionDariBahanBekas2013#5958612254515991762https://picasaweb.google.com/smp2trenggalek/FashionDariBahanBekas2013#5958612240755584290https://picasaweb.google.com/smp2trenggalek/FashionDariBahanBekas2013#5958612362693017650
Foto-foto fashion yang lain dapat di lihat DI SINI
 
Foto-foto Lomba Karaoke silakan klik DI SINI
Selengkapnya...

21 Mei, 2013

SAY NO TO DRUGS

Selasa, 21 Mei 2013 bertempat di ruang Aula SMP Negeri 2 Trenggalek telah diselenggarakan Sosialisasi Bahaya Narkoba oleh Badan Narkotika Nasional Kab. Trenggalek bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Trenggalek. Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, sekaligus sebagai implementasi Inpres No 12 tahun 2012. Kegiatan diikuti oleh peserta kelas 8 dan beberapa perwakilan dari kelas 7. Kegiatan dimulai pukul 08.30 yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesaia Raya dan berakhir pukul + 12.00 WIB. Dalam pelaksanaannya semua peserta mendapatkan perlengkapan ATK, Print Out Materi, PIN BNN dan Snack.
Materi sosialisasi meliputi:
-  Pemahaman dan masalah pokok narkoba (produksi dan peredaran gelap serta penyalahgunaan)
-   Jenis-jenis narkoba
-   Dampak penggunaan narkoba
-   Ketentuan pidana
-   Peran orang tua, masyarakat serta sekolah (guru) dan
-   Upaya-upaya yg dilakukan
Dengan diadakannya kegiatan tersebut, sangat bermanfaat khususnya bagi para peserta tentunya akan mendapatkan pemahaman yang benar dan juga ilmu pengetahuan serta wawasan yang luas tentang narkoba dan bahaya yang diakibatkannya, sehingga mereka dapat menjaga diri agar tidak terjerumus dan terhindar dari permasalahan dan pengaruh narkoba. Lebih dari itu mereka juga dapat menularkan pengetahuan yang dimiliki kepada lingkungan sosialnya. Semoga.
Bagi sekolah, kegiatan semacam ini juga sangat penting dan dibutuhkan karena merupakan salah satu bentuk kerja sama atau kemitraan dengan pihak lain sekaligus mendukung Pengembangan Program Sekolah Adiwiyata yang pada tahun 2013 ini Alhamdulillah SMP Negeri 2 Trenggalek menjadi nominasi dan akan maju ke tingkat Nasional. Menurut informasi yang diterima, diperkirakan pada akhir bulan Mei ini atau awal bulan Juni, Tim Penilai dari pusat akan datang ke sekolah untuk melakukan penilaian lapangan atau uji petik. Mudah-mudahan dari hasil penilaian nanti kita dapat memenuhi syarat dan dapat memboyong trophy sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional. Amin.
Foto-foto kegiatan sosialisasi klik di sini.
Selengkapnya...

13 April, 2013

Penilaian Adiwiyata

Nahhh……….akhirnya datang juga. Kamis, 11 April 2013 setelah menunggu sejak pagi dan badan sudah mulai terasa lelah ternyata sekitar pukul 15.00 WIB rombongan Tim Penilai Sekolah Adiwiyata tingkat provinsi Jawa Timur sampai juga di sekolah kami.  Kedatangan tim yang terdiri 2 orang tersebut disambut dengan gembira dan langsung disuguhi nasi thiwul khas Trenggalek dengan diiringi Mars Adiwiyata yg dibawakan anak-anak tim paduan suara SMP Negeri 2 Trenggalek.
Setelah selesai ramah tamah, acara dilanjutkan di ruang aula yang diawali sambutan Kepala Sekolah untuk menyampaikan sekilas profil sekolah dan Rencana Aksi program adiwiyata tahun 2012/2013. Dilanjutkan sambutan tim penilai yang diwakili oleh bapak Deddy diawali dengan salam khas adiwiyata “Selamat Pagi”, meskipun saat itu waktu sudah sore hari. Memang suasana dan semangat pagi yang selalu fresh diharapkan terus menjiwai dan menjadi motivasi semua warga sekolah dalam pengembangan program sekolah adiwiyata tanpa mengenal waktu.
Setelah memperkenalkan diri, beliau memberi apresiasi atas sambutan warga SMPN 2 Trenggalek baik guru maupun siswanya yg terlihat kompak dan masih bertahan sampai sore. Dan untuk menyegarkan suasana kami diajak melakukan “Senam Adiwiyata” yang ada …tul….tul…nya itu lho. Serta merta suasanapun menjadi heboh dan penuh gelak tawa. He he …, itu kan bisa-bisanya pak Deddy saja. Beliau juga menyampaikan, beban seberat apapun kalau dilakukan dengan semangat kebersamaan dan diawali senyuman maka akan terasa ringan dalam menjalankannya. Bahkan beliau memberi contoh untuk mengembangkan senyum yang tulus dengan membentuk pola bibir yang simetris bisa latihan dengan mengucapkan kata “sate”. Wahh...enak donk, yang itu kesukaanku pak Deddy. Wkk...wkk...
Lebih jauh beliau menjelaskan tentang konsep, pemahaman serta penerapannya sehari-hari yang seharusnya dilakukan oleh seluruh warga sekolah dalam ber-adiwiyata. Beliau juga mengingatkan bahwa tujuan sekolah adiwiyata bukanlah untuk lomba mencari juara, namun lebih menekankan pada penanaman kesadaran bagi semua warga sekolah agar lebih peduli pada lingkungannya. Intinya beliau lebih banyak melakukan pembinaan dan bimbingan serta motivasi dalam mengembangkan sekolah adiwiyata yang benar.
Selanjutnya tim membagi tugas yakni pak Deddy menilai dan melakukan pengecekan administrasi tentang pengembangan kebijakan dan kurikulum, sedangkan pak Mas’ud yang panggilannya akrabnya pak Baung kebagian Uji Lapangan berkaitan dengan pengembangan kegiatan partisipatif dan pengembangan sarpras ramah lingkungan.
Di akhir kegiatannya sekitar pukul 20.00 WIB beliau berdua menyampaikan kesimpulan bahwa secara umum apa yang telah dicapai SMP Negeri 2 Trenggalek sudah jauh lebih baik dari pada saat kunjungan bu Eka bersama timnya pada tahun 2012 lalu. Hanya beberapa memang perlu disempurnakan khususnya terkait dengan kelengkapan data dan administrasi. Keterlibatan komite dan stake holder terkait lainnya juga masih sangat kurang dan menjadi catatan. Sedangkan kondisi fisik dan lingkungan sekolah serta pemahaman warga sekolah tentang adiwiyata, capaian SMP Negeri 2 Trenggalek sudah sangat baik. Dan menurut beliau, itu semua menunjukkan bahwa ini merupakan hasil kerja keras bersama dan bukanlah pekerjaan instan yang dilakukan hanya dalam waktu singkat. Ini juga dibuktikan pada saat tim penilai mewawancarai beberapa siswa seputar kebun bibit, kebun toga dan pengelolaan sampah, mereka dapat menjawabnya dengan lancar.
Alhamdulillah…..plong rasanya ….., tapi..... tugas-tugas baru dah banyak menunggu kita. 
           Selamat pagi!

Foto-foto kunjungan Tim Penilai klik di sini

Selengkapnya...

30 Maret, 2013

Kultur Sekolah

Di era globalisasi, pendidikan sungguh menghadapi berbagai tantangan yang semakin berat. Pendidikan tidak hanya dituntut untuk mengikuti dan menyesuaikan dengan perubahan sosial yang ada, namun lebih dari itu, juga dituntut untuk mampu mengantisipasi perubahan dalam menyiapkan generasi muda untuk mengarungi kehidupannya di masa datang.
Sekolah sebagai suatu sistem memiliki empat aspek pokok yg sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: 1. Proses belajar mengajar, 2. Kepemimpinan dan manajemen sekolah, 3. Sarana prasarana, serta 4. Kultur sekolah. Secara konvensional program aksi yang dilakukan senantiasa menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu PBM, sedikit menyentuh aspek kedua dan ketiga, dan hampir tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah, karena aspek pertama itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa.
Namun, sejauh ini bukti-bukti telah menunjukkan bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan in-konvensional yakni, meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. Faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam wujud fisik, seperti keberadaan guru yang berkualitas, ketersediaan sarana prasarana yang lengkap, tetapi juga dalam wujud non-fisik, yakni berupa "kultur sekolah". Dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa sangatlah kuat, meskipun tidak bersifat langsung, melainkan lewat berbagai variabel, antara lain seperti semangat kerja keras, kebersamaan, rela berkorban dan kemauan untuk berprestasi.
Kultur sekolah sangat vital perannya bagi sebuah proses pendidikan. Jika budaya sekolah sudah mapan, siapa pun yang masuk dan bergabung ke sekolah itu hampir secara otomatis akan mengikuti tradisi yang telah ada. Sayangnya selama ini kita lebih sibuk berbicara kurikulum, jumlah ketersediaan guru, tunjangan guru, dan target kelulusan dalam ujian nasional; sedikit sekali berbicara tentang budaya sekolah. Padahal akhir-akhir ini pemerintah mulai berbicara pentingnya pembentukan karakter dengan dicanangkannya program Pendidikan Karakter Bangsa (PKB) yang diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran.
Tanpa budaya sekolah yang bagus akan sulit melakukan pendidikan karakter bagi anak-anak didik kita. Sebuah budaya mengasumsikan kehidupan yang berjalan natural, tidak lagi dirasakan sebagai beban. Dengan demikian, proses pendidikan dan beban kurikulum sekolah tidak lagi dirasakan sebagai beban yang berat.
Kultur Sekolah adalah tradisi sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah. Tradisi itu mewarnai kualitas kehidupan sebuah sekolah. Oleh karena itu, nilai-nilai yang ditunjukkan dari yang paling sederhana, misalnya cara mengatur parkir kendaraan guru, siswa, dan tamu, memasang hiasan di dinding-dinding ruangan, sampai persoalan-persoalan menentukan seperti kebersihan kamar kecil, cara guru dalam pembelajaran di ruang-ruang kelas, cara kepala sekolah memimpin pertemuan bersama staf, merupakan bagian integral dari sebuah kultur sekolah (Pengembangan Kultur Sekolah, Depdiknas, 2004, hlm. 11)
Kultur sekolah merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh warga sekolah, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai-nilai dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan serta memecahkannya. Menurut Clifford Geertz kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. Kultur sekolah ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah, guru, staf administrasi maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.
Kultur sekolah yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi, b) sikap dan motivsi kerja guru,  dan, c) produktivitas dan kepuasan kerja guru/karyawan. Namun demikian, kultur sekolah harus dilihat sebagai suatu kesatuan sekolah yang utuh. Artinya, harus dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain, seperti, a) rangsangan untuk berprestasi, b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi, c) komunitas sekolah yang tertib, d) pemahaman tujuan sekolah, e) ideologi organisasi yang kuat, f) partisipasi orang tua siswa, g) kepemimpinan kepala sekolah, dan, h) hubungan akrab di antara warga sekolah.
Kepala sekolah harus memahami kultur sekolah, dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Pengembangan kultur sekolah yang "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog, saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. Biarlah guru, staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya, mana segi positif dan mana negatif, khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah, struktur organisasi, nilai-nilai dan norma-norma, kepuasan terhadap kelas, dan produktivitas sekolah.
Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan yang spesifik di sekolahnya tersebut. Karena, akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat, memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam, kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsungnya proses pendidikan.
Sebagai suatu masyarakat kecil, sekolah merupakan cermin dari masyarakat dimana sekolah itu berada. Apa yang terdapat dan terjadi di masyarakat, pada dasarnya terwujud juga dalam sekolah. Di sekolah terdapat aturan-aturan yang mengikat para anggotanya, baik peserta didik maupun guru. Ada norma-norma dalam pergaulan yang harus dipatuhi, terdapat interaksi antara sesamanya baik secara individual maupun kelompok, terdapat konflik-konflik interes baik yang nampak maupun tersembunyi. Sangsi-sangsi akan dijatuhkan kepada siapa saja yang melanggar tatanan yang ada dan penghargaan akan diberikan bagi mereka yang berprestasi. Hak-hak dan kewajiban guru dan murid diakui.
(Diadopsi dan diadaptasi dari berbagai sumber)

Adapun kultur sekolah yang dikembangkan di SMP Negeri 2 Trenggalek yakni:
·  Imtaq
·  Ramah
·  Sopan
·  Disiplin
·  Tepat waktu 
·  Tertib
·  Rapi
·  Gemar membaca
·  Gemar menulis
·  Kerja sama
·  Gotong royong
·  Berani
·  Jujur
·  Tanggung jawab
·  Suka menolong
·  Keteladanan
·  Cinta tanah air
·  Bersih diri,
·  Peduli lingkungan
·  Kesehatan diri
·  Rajin menabung
·  Setia
·  Hemat
·  Cermat
·  Kemauan kuat
·  Kerja keras
·  Ulet
·  Pantang menyerah
·  Tabah
·  Sabar
·  Ikhlas
·  Bersyukur
·  Suka beramal
·  Kekeluargaan
·  Peduli
·  Kompetisi
.  Sportif
·  Reorganisasi
·  Musyawarah
·  Demokratis
·  Menerima perbedaan
·  Rela berkorban
·  Pemberian sangsi
·  Penghargaan


Foto-foto yang menggambarkan dan merupakan perwujudan kultur sekolah di SMP Negeri 2 Trenggalek, lihat DI SINI
Selengkapnya...

01 Januari, 2013

TENTANG ADIWIYATA

Pengertian Adiwiyata

  • Adi               :  Besar, Agung, Baik, Ideal
  • Wiyata          : Tempat dimana seseorang mendapat  Ilmu Pengetahuan.
  • Adiwiyata     : Tempat yang baik dan ideal  dimana dapat diperoleh  segala ilmu pengetahuan danberbagai norma
  • Program Sekolah Adiwiyata adalah suatu program yang mendorong terciptanya pengetahuan & kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup
Dasar Hukum
1.     Penerapan Kesepakatan Bersama Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Departemen Pendidikan Nasional KEP 7/MENLH/06/2005 dan Nomor :05/VI/KB/2005 yang telah diperbaharui dengan MOU Nomor 03/MENLH/02/2010 dan Nomor 01/II/KB/2010 tentang PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP yang telah ditandatangani pada tanggal 1 Februari 2010
2.     Surat Gubernur Jawa Timur Nomor. 510.1/12870/021/2007 tanggal 28 September 2007 tentang Sekolah adiwiyata;
3.     Surat Deputi MENLH Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat no. B 8684/Dep VI/LH/2007 taggal 16 Nopember tentang Program Adiwiyata tahun 2008.
4.     Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata
Tujuan Program Sekolah Adiwiyata
·    Tujuan program sekolah adiwiyata adalah untuk menciptakan kondisi yg baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran & penyadaran warga sekolah, sehingga di kemudian hari warga sekolah tersebut dapat bertanggungjawab dalam upaya-upaya penyelamatan LH dan pembangunan berkelanjutan
Norma Dasar Adiwiyata
  • Kebersamaan
  • Keterbukaan
  • Kesetaraan
  • Kejujuran
  • Keadilan
  • Kelestarian fungsi LH dan SDA
Prinsip Dasar Adiwiyata
Partisipatif : 
Komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi : perencanaan, pelaksanaan,   dan evaluasi sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya
Berkelanjutan : 
Seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana, koprehensif dan terus menerus


Indikator Program Adiwiyata
  • Pengembangan Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan.
  • Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan.
  • Pengembangan Kegiatan Berbasis Partisipatif.
  • Pengembangan dan atau Pengelolaan Sarana Pendukung Sekolah.

Struktur Pelaksanaan Program Adiwiyata

Foto-foto berkaitan dengan Adiwiyata
Untuk melihat foto-foto silakan klik link di bawah ini:
Selengkapnya...

Solusi Pengelolaan Sampah (3R)

3R atau Reuse, Reduce, dan Recycle sampai sekarang masih menjadi cara terbaik dalam mengelola dan menangani sampah dengan berbagai permasalahannya. Penerapan sistem 3R atau reuse, reduce, dan recycle menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah di samping mengolah sampah menjadi kompos atau meanfaatkan sampah menjadi sumber listrik (PLTSa; Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Justru pengelolaan sampah dengan sistem 3R (Reuse Reduce Recycle) dapat dilaksanakan oleh setiap orang dalam kegiatan sehari-hari.
3R terdiri atas reuse, reduce, dan recycle. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.
Melakukan 3R (Reuse Reduce Recycle) Setiap Hari. Mengelola sampah dengan sistem 3R (Reuse Reduce Recycle) dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja (setiap hari), di mana saja, dan tanpa biaya. Yang dibutuhkan hanya sedikit waktu dan kepedulian kita.
Berikut adalah kegiatan 3R (Reuse Reduce Recycle) yang dapat dilakukan di rumah, sekolah, kantor, ataupun di tempat-tempat umum lainnya.


Contoh kegiatan reuse sehari-hari:
1. Pilihlah wadah, kantong atau benda yang dapat digunakan beberapa kali atau berulang-ulang. Misalnya, pergunakan serbet dari kain dari pada menggunakan tissu, menggunakan baterai yang dapat di charge kembali.
2.   Gunakan kembali wadah atau kemasan yang telah kosong untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya. Misalnya botol bekas minuman digunakan kembali menjadi tempat minyak goreng.
3.   Gunakan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali.
4.   Gunakan sisi kertas yang masih kosong untuk menulis.
5.   Gunakan email (surat elektronik) untuk berkirim surat.
6.   Jual atau berikan sampah yang terpilah kepada pihak yang memerlukan

Contoh kegiatan reduce sehari-hari:
1.   Pilih produk dengan kemasan yang dapat didaur ulang.
2.   Hindari memakai dan membeli produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar.
3.   Gunakan produk yang dapat diisi ulang (refill). Misalnya alat tulis yang bisa diisi ulang kembali).
4.   Maksimumkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali.
5.   Kurangi penggunaan bahan sekali pakai.
6.   Gunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi.
7.   Hindari membeli dan memakai barang-barang yang kurang perlu.

Contoh kegiatan recycle sehari-hari:
1.   Pilih produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai.
2.   Olah sampah kertas menjadi kertas atau karton kembali.
3.   Lakukan pengolahan sampah organic menjadi kompos.
4.   Lakukan pengolahan sampah non organic menjadi barang yang bermanfaat.

3R atau Reuse, Reduce, dan Recycle sebenarnya sederhana dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja serta tidak membutuhkan biaya yang besar. Namun dari 3R yang sederhana ini bisa memberikan dampak yang signifikan bagi penanganan sampah yang sering menjadi permasalahan di sekitar kita. Ingin melihat dampaknya, langsung saja dicoba!

Selengkapnya...